Sholat Gerhana Bulan dan Matahari Lengkap Dengan Tata Caranya
![]() |
| Panduan Sholat Sunnah Kusuf (Gerhana Matahari) dan Sholat Sunnah Khusuf (Gerhana Bulan) Lengkap dengan Tata Cara Pelaksanaannya |
Gerhana bulan dan gerhana matahari adalah fenomena alam yang menjadi bukti kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Ketika hal itu terjadi, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunnah 2 rokaat yang kerap disebut sebagai sholat gerhana.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Sholallohu Alaihi Wa Sallam dalam hadisnya,
"Sesungguhnya, gerhana matahari dan gerhana bulan tidak berkaitan dengan kehidupan atau kematian seseorang, melainkan manifestasi kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Oleh karena itu, jika kalian menyaksikan gerhana matahari atau gerhana bulan, hendaklah kalian bangkit dan melaksanakan sholat. (Dikutip dari Hadis Riwayat Bukhari-Muslim)
Dalam buku Super Lengkap Sholat Sunah karya Ubaidurrahim El-Hamdy menjelaskan bahwa dalam ilmu fiqih, sholat gerhana dikenal dengan sebutan sholat Kusuf dan Khusuf atau Kusufaini.
Pengertian Sholat Gerhana
Sholat gerhana dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah khusuf ( الخسوف ) dan juga kusuf ( الكسوف ) sekaligus. Secara bahasa, kedua istilah itu sebenarnya punya makna yang sama. Sholat gerhana matahari dan gerhana bulan sama-sama disebut dengan kusuf dan juga khusuf sekaligus.
Namun masyhur juga di kalangan ulama penggunaan istilah khusuf untuk gerhana bulan dan kusuf untuk gerhana matahari. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 2 halaman 1421)
Kusuf adalah peristiwa dimana sinar matahari menghilang baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari.
Khusuf adalah peristiwa dimana cahaya bulan menghilang baik sebagian atau total pada malam hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada di balik bumi dan matahari.
Dalil dan Hukum Sholat Gerhana
Sholat gerhana adalah sholat sunnah muakkadah yang ditetapkan dalam syariat Islam sebagaimana para ulama telah menyepakatinya.
Dalilnya adalah firman Alloh SWT dalam Al-Qur'an Surat Fushshilat ayat 37:
وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ ٣٧
Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Alloh yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (QS. Fushshilat: 37)
Maksud dari perintah Alloh SWT untuk bersujud kepada Yang Menciptakan matahari dan bulan adalah perintah untuk mengerjakan sholat gerhana matahari dan gerhana bulan.
Selain itu juga Rosululloh SAW bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا، فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda kebesaran Alloh SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah sholat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu. (HR. Bukhari no. 1043, Muslim no. 915)
Sholat gerhana disyariatkan kepada siapa saja, baik dalam keadaan muqim di negerinya atau dalam keadaan safar, baik untuk laki-laki atau untuk perempuan. Atau diperintahkan kepada orang-orang yang wajib melakukan sholat Jum'at.
Namun meski demikian, kedudukan sholat ini tidak sampai kepada derajat wajib, sebab dalam hadits lain disebutkan bahwa tidak ada kewajiban selain sholat 5 waktu semata.
Pelaksanaan Sholat Gerhana
Sholat gerhana matahari dan bulan dikerjakan dengan cara berjamaah, sebab dahulu Rosululloh SAW. mengerjakannya dengan berjamaah di masjid. Sholat gerhana secara berjamaah dilandasi oleh hadits Aisyah ra.
Sholat gerhana dilakukan tanpa didahului dengan adzan atau iqomah. Yang disunnahkan hanyalah panggilan sholat dengan lafaz "Ash Sholatu Jamiah".
Dalilnya adalah hadits berikut:
Dari Abdulloh bin Umar ra. berkata bahwa Rosululloh SAW mengutus orang yang memanggil sholat dengan lafadz: Ash sholatu jami'ah. (HR. Muttafaqun alaihi)
Namun sholat ini boleh juga dilakukan dengan sirr (merendahkan suara) maupun dengan jahr (mengeraskan suara).
Juga disunnahkan untuk mandi sunnah sebelum melakukan sholat gerhana, sebab sholat ini disunnahkan untuk dikerjakan dengan berjamaah.
Sholat ini juga dilakukan dengan khutbah menurut pendapat Asy Syafi'i. Khutbahnya seperti layaknya khutbah Idul Fithri dan Idul Adha dan juga khutbah Jumat.
Dalilnya adalah hadits Aisyah ra. berkata,
Sesungguhnya ketika Nabi SAW selesai dari sholatnya, beliau berdiri dan berkhutbah di hadapan manusia dengan memuji Alloh, kemudian bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda kebesaran Alloh SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah sholat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu." (HR. Muttafaqun 'alaih)
Dalam khutbah itu Rosululloh SAW menganjurkan untuk bertaubat dari dosa serta untuk mengerjakan kebajikan dengan bersedekah, doa dan istighfar (minta ampun).
Sedangkan Al-Malikiyah mengatakan bahwa dalam sholat ini disunnahkan untuk diberikan peringatan (al-wa'zh) kepada para jamaah yang hadir setelah sholat, namun bukan berbentuk khutbah formal di mimbar.
Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah juga tidak mengatakan bahwa dalam sholat gerhana ada khutbah, sebab pembicaraan nabi SAW setelah sholat dianggap oleh mereka sekedar memberikan penjelasan tentang hal itu.
Sholat Gerhana Bulan (Khusuf)
Niat Sholat Gerhana Bulan
Berikut ini bacaan niat Sholat Gerhana Bulan atau Sholat Sunnah Khusuf lengkap arab latin dan artinya:
أُصَلِّى سُنَّةً لِحُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Usholli sunnatal likhusufil qomari rok'ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta'ala.
Aku niat sholat sunnah karena gerhana bulan dua rokaat menghadap kiblat karena Alloh Ta'ala.
Tata Cara Sholat Gerhana Bulan
Berikut langkah-langkah mengerjakan sholat gerhana bulan:
- Membaca niat seperti yang dijelaskan di atas
- Melakukan Takbiratul Ihram
- Membaca doa iftitah
- Dilanjutkan dengan taawudz dan surah Al-Fatihah
- Membaca surat yang agak panjang seperti Al-Baqarah atau yang lainnya
- Rukuk yang lama
- I'tidal
- Setelah i'tidal tidak langsung sujud, tapi melanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah dan surat lain. Bagian berdiri yang kedua ini lebih singkat, hanya membaca surat Al-Fatihah dan surat Ali Imran.
- Melakukan rukuk kembali yang lebih pendek
- Bangkit dari rukuk atau i'tidal yang kedua.
- Sujud yang lama
- Duduk di antara dua sujud
- Sujud Kedua yang lebih pendek
- Berdiri dari sujud dan menjalankan rakaat kedua serupa dengan rakaat pertama, namun dengan bacaan dan gerakan yang lebih ringkas. Dalam rakaat kedua, disarankan untuk membaca surah An-Nisa dan surah Al-Maidah.
- Salam
- Mendengarkan khutbah Gerhana.
Sholat Gerhana Matahari (Kusuf)
Niat Sholat Gerhana Bulan
Berikut ini bacaan niat Sholat Gerhana Matahari atau Sholat Sunnah Kusuf lengkap arab latin dan artinya:
أُصَلِّى سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Usholli sunnatal likusufisy syamsi rok'ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta'ala.
Aku niat sholat sunnah karena gerhana matahari dua rokaat menghadap kiblat karena Alloh Ta'ala.
Tatacara Sholat Gerhana Matahari
Cara melaksanakan sholat gerhana matahari tidak berbeda jauh dengan sholat gerhana bulan. Yang membedakan hanya niat dan doanya saja.
- Melafalkan niat dalam hati.
- Membaca takbiratul ihram seperti dalam salat biasa.
- Mengucapkan doa iftitah dan ta'awudz.
- Membaca surah Al-Fatihah.
- Membaca surah panjang dengan suara keras (jahr).
- Melakukan rukuk sambil memanjangkannya.
- Bangkit dari rukuk (iktidal)
- Setelah iktidal, tidak langsung sujud, melainkan melanjutkan dengan membaca surah Al-Fatihah dan surah panjang yang kedua.
- Melakukan rukuk kembali (rukuk kedua), yang lebih singkat dari rukuk sebelumnya.
- Bangkit dari rukuk.
- Melakukan sujud yang panjang, sebagaimana pada rukuk.
- Duduk di antara dua sujud, kemudian sujud lagi.
- Bangkit dari sujud, lalu melaksanakan rakaat kedua sebagaimana rakaat pertama, namun dengan singkatan.
- Mengucapkan salam.
- Mendengarkan khotbah gerhana.
Panduan Teknis Sholat Gerhana
Sholat gerhana dilakukan sebanyak 2 rokaat. Masing-masing rokaat dilakukan dengan 2 kali berdiri, 2 kali membaca suratan Al-Quran, 2 ruku' dan 2 sujud.
Dalil yang melandasi hal tersebut adalah:
Dari Abdulloh bin Amru berkata, "Tatkala terjadi gerhana matahari pada masa nabi SAW, orang-orang diserukan untuk sholat "As-sholatu jami'ah". Nabi melakukan 2 ruku' dalam satu rokaat kemudian berdiri dan kembali melakukan 2 ruku' untuk rokaat yang kedua. Kemudian matahari kembali nampak. Aisyah ra. berkata: "Belum pernah aku sujud dan ruku' yang lebih panjang dari ini. (HR. Muttafaqun alaihi)
Lebih utama bila pada rakaat pertama pada berdiri yang pertama setelah Al-Fatihah dibaca surat seperti Al Baqoroh dalam panjangnya. Sedangkan berdiri yang kedua masih pada rokaat pertama dibaca surat dengan kadar sekitar 200-an ayat, seperti Ali Imron.
Sedangkan pada rokaat kedua pada berdiri yang pertama dibaca surat yang panjangnya sekitar 250-an ayat, seperti An-Nisa. Dan pada berdiri yang kedua dianjurkan membaca ayat yang panjangnya sekitar 150-an ayat seperti Al-Maidah.
Disunnahkan untuk memanjangkan ruku' dan sujud dengan bertasbih kepada Alloh SWT, baik pada 2 rukuk dan sujud rokaat pertama maupun pada 2 ruku' dan sujud pada rokaat kedua.
Yang dimaksud dengan panjang disini memang sangat panjang, sebab bila dikadarkan dengan ukuran bacaan ayat Al-Quran, bisa dibandingkan dengan membaca 100, 80, 70 dan 50 ayat surat Al-Baqoroh.
Panjang rukuk dan sujud pertama pada rokaat pertama seputar 100 ayat surat Al-Baqoroh, pada ruku' dan sujud kedua dari rokaat pertama seputar 80 ayat surat Al-Baqoroh.
Dan seputar 70 ayat untuk rukuk dan sujud pertama dari rokaat kedua. Dan sujud dan rukuk terakhir sekadar 50 ayat.
Dalilnya adalah hadits shohih yang keshohihannya telah disepakati oleh para ulama hadits.
Dari Ibnu Abbas ra. berkata: "Terjadi gerhana matahari dan Rosululloh SAW. melakukan sholat gerhana. Beliau berdiri sangat panjang sekira membaca surat Al-Baqoroh. Kemudian beliau ruku' sangat panjang lalu berdiri lagi dengan sangat panjang namun sedikit lebih pendek dari yang pertama. Lalu ruku' lagi tapi sedikit lebih pendek dari ruku' yang pertama. Kemudian beliau sujud. Lalu beliau berdiri lagi dengan sangat panjang namun sidikit lebih pendek dari yang pertama, kemudian ruku' panjang namun sedikit lebih pendek dari sebelumnya." (HR. Bukhari no. 1052, Muslim no. 907)

